Living Values Education Indonesia

Let’s dance together, let’s peace together…

Hujan masih mengguyur cukup deras ketika beberapa anak naik ke atas panggung kecil yang berdiri di halaman sebuah sekolah dasar di pinggiran kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Berpakaian adat Aceh, mereka terlihat begitu gagah dan penuh semangat. Di bawah tenda panjang tepat di depan panggung, puluhan penonton duduk menunggu tanpa menghiraukan hawa dingin atau tanah becek yang mengotori kaki. Sementara di teras-teras bangunan kelas yang memanjang, orang-orang berjubel, penuh antusias mengarahkan pandangannya ke panggung atau sekedar mengobrol satu sama lain. Malam itu, halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Air Pinang, kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan ramai dan semarak dengan atraksi kesenian seperti tarian, lagu atau pembacaan puisi.

Dari busana yang dikenakan anak-anak itu, saya membayangkan akan menyaksikan sebuah pertunjukan tari Aceh dengan iringan musiknya yang khas dan rancak. Ingatanku kembali ke masa-masa ketika masih tinggal dan bekerja di Aceh, di mana tari aceh bisa kusaksikan di berbagai acara warga seperti kenduri atau acara-acara resmi yang digelar oleh pemerintah setempat. Tari aceh yang penuh semangat -selain kopinya yang enak dan masyarakatnya yang bersahaja-  adalah beberapa kenangan yang tak mudah hilang setelah beberapa bulan lamanya tidak lagi tinggal di Aceh.

Tapi saya kecele. Bukan tarian Bungong Jeumpa atau Ranub Lampuan yang kulihat di atas panggung. Sebaliknya, anak-anak itu menari -tepatnya berjoget- diiringi musik disko berirama menghentak. Tidak tanggung-tanggung, mereka lincah menggerakkan badan mengikuti musik disko sebuah lagu pop terkenal Let’s Dance Together karya seorang musisi kenamaan negeri ini, Melly Goeslaw. Lagu ini populer dinyanyikan oleh kelompok vokal yang pernah menjadi idola remaja Indonesia, B3 (Bukan Bintang Biasa). Para penikmat berita hiburan atau gosip pasti mengenal salah satu anggota kelompok vokal tersebut, yang terkenal lantaran berpacaran dengan penyanyi bertubuh mungil yang usianya jauh lebih tua. Anda mengenalnya?


let’s dance together//get on the dance floor//

the party won’t start//if you stand still like that//

let’s dance together//let’s party and turn off the lights...


Begitulah penggalan lirik lagu yang mengiringi tarian anak-anak siswa MIN Air Pinang pada malam pentas seni yang menjadi bagian dari acara Festival Perdamaian dan Sarasehan Sekolah berbasis Nilai kerjasama JRS Tapaktuan dengan sekolah-sekolah di Aceh Selatan. Sekolah yang berpartisipasi adalah sekolah yang didampingi JRS untuk program sekolah berbasis Pendidikan Menghidupkan Nilai (Living Values Education Program) dan pendidikan pengurangan resiko bencana. Acara yang berlangsung pada tanggal 28 - 30 Mei 2010 yang lalu ini gelar dalam rangka penutupan program pendampingan sekolah yang telah berlangsung selama lebih kurang 1 tahun.

Selain malam pertunjukan kesenian yang menampilkan atraksi dari masing-masing sekolah, para guru dan siswa dari 10 sekolah dampingan JRS juga berpartisipasi dalam berbagai lomba antara lain olahraga, lomba membaca puisi, juga lomba penggalian nilai seperti cerdas cermat bertema Living Values dan lomba membuat rencana pengajaran dan simulasi pengajaran di kelas yang berbasis Nilai. Selain itu, acara juga dimeriahkan dengan pameran poster bertema damai dan benda-benda kerajinan daur ulang ramah lingkungan hasil kreatifitas anak-anak dan guru sekolah dampingan JRS. 

“Acara ini membuat persahabatan antar sekolah menjadi lebih akrab. Yang paling penting adalah acara ini terselenggara berkat kerjasama antara guru dengan JRS, guru dengan guru dan guru dengan masyarakat. Tidak sekedar meriah, tetapi juga ada nilai kerjasama” begitu pendapat ibu Nirwaida, guru MIN Air Pinang yang juga pernah mengikuti pelatihan Living Values yang diadakan JRS.

Nilai, itu kata kunci yang menjadi nafas dari festival dan keseluruhan program pendampingan JRS untuk sekolah-sekolah di Tapaktuan, Aceh Selatan. Bertahun-tahun konflik kekerasan di Aceh telah mengubur nilai-nilai keadaban dan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Kebahagiaan, kerjasama, saling menghargai, dan nilai positif lainnya hilang ketika warga dipaksa berhadapan pada situasi di mana kekerasan menjadi cara untuk menyelesaikan setiap persoalan. Secara tidak langsung, warga, termasuk anak-anak, ‘belajar’ dari situasi tersebut.  

Melalui program Pendidikan Menghidupkan Nilai di Sekolah, seluruh anggota komunitas sekolah, guru, siswa, kepala sekolah dan masyarakat sekitar bersama-sama menemukan kembali nilai-nilai positif dan kearifan hidup yang ada pada lingkungan dan masyarakat melalui berbagai kegiatan, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi institusi yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan kepada anak didik, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali nilai-nilai positif untuk mendukung tumbuhnya budaya perdamaian.

Bukan suatu kebetulan jika anak-anak MIN Air Pinang menampilkan pertunjukan tari dengan musik disko, sesuatu yang tidak biasa dalam acara resmi. Bertahun-tahun lamanya kekerasan telah merampas nilai kebebasan sebagai salah satu hak dasar manusia, dalam hal ini bebas dari rasa takut, menyampaikan pendapat, mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan hidup, serta kebebasan dalam menjalankan ritual keagamaan serta berkreasi dalam aktifitas kesenian dan kebudayaan.

Konflik kekerasan telah melemahkan daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh. Lalu ketika perdamaian mulai tumbuh, warga Aceh baik orang dewasa maupun anak-anak menemukan kembali ruang untuk menyalurkan ekspresi dan kreatifitas melalui banyak media seperti kesenian, olahraga atau media lainnya. Surau dan masjid kembali ramai, kesenian lokal kembali menggeliat, lapangan olah raga mulai penuh dengan anak-anak muda dan warga perlahan mulai bisa mendapatkan kembali akses informasi atau hiburan lewat banyak media. Daya imajinasi dan energi kreatif warga Aceh yang dulu tersumbat pada akhirnya tumpah dan menemukan bentuk-bentuk baru serta kreatifitas-kreatifitas yang lebih segar dan bermakna.   

Kreatifitas warga Aceh dalam aktifitas kesenian atau kebudayaan dimungkinkan terjadi ketika ada keterbukaan. Dalam keterbukaan, terjadi perjumpaan dengan berbagai kebiasaan, adat, maupun kebudayaan dari masyarakat lain, disamping adanya kebebasan untuk mendapatkan akses terhadap informasi. Sejarah mencatat Aceh pernah menjadi pusat peradaban nusantara dan menjadi pintu masuk berbagai macam kebudayaan dari luar, jauh sebelum senjata dan kekerasan mengubah wajah Aceh yang damai dan beradab menjadi lekat dengan teror dan kekerasan.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang dalam konteks tertentu adalah bukti sederhana bahwa sejak dulu masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka dalam menerima sesuatu yang baru dan berbeda, dalam arti positif tentunya. Meminjam istilah Karl Popper, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang terbuka (open society). Keterbukaan adalah syarat sekaligus pertanda tumbuh berkembangnya suatu masyarakat menjadi dewasa dan beradab, karena keterbukaan mensyaratkan adanya pengakuan dan kerendahan hati untuk mau belajar dan berdampingan dengan yang lain, liyan (other), entah itu budaya, orang atau keyakinan tertentu.

Tarian disko anak-anak MIN Air Pinang, poster-poster karya yang bertema optimisme dan semangat untuk hidup dalam damai, serta kegembiraan guru, siswa dan semua orang yang terlibat dalam festival perdamaian ini juga merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang terbuka serta memiliki semangat untuk terus menerus menempatkan harmoni dan kedamaian di atas segala sekat perbedaan. Tidak ada tempat lagi untuk kekerasan, karena kekerasan menghilangkan ruang untuk berkreasi dan membangun peradaban. Perbedaan tidak dipertentangkan, tetapi rahmat Tuhan yang harus disyukuri sekaligus dijadikan bekal untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik menurut potensi dan latar belakang masing-masing.

Sekali lagi bukan suatu kebetulan jika lagu Let’s Dance Together dijadikan pilihan anak-anak MIN Air Pinang sebagai seruan bagi warga Aceh khususnya untuk membuka lembar baru kehidupan dengan penuh kegembiraan, menatap masa depan yang damai penuh dengan nilai. Bagi saya, lagu Let’s dance together adalah satu tarikan nafas dengan ajakan let’s peace together..Semoga.

 

Saefuddin Amsa-Semarang, 30 Juni 2010